KISAH NABI YUSUF DIGODA SITI ZULAIKHA (PART I)

Beginilah Kisah Nabi Yusuf Digoda Siti Zulaikha (1)



NABI Yusuf hidup tenang dan tenteram di rumah Futhifar, Pembesar Mesir. Sejak ia menginjakkan kakinya di rumah itu, ia mendapat kepercayaan penuh dari kedua majikannya, suami-istri, untuk mengurus rumah tangga mereka dan melaksanakan perintah serta segala keperluan mereka dengan sepenuh hati, ikhlas juga jujur. Dan tidak menuntut upah serta balasan atas segala tenaga dan jerih payah yang dicurahkan untuk kepentingan keluarga tersebut. Ia menganggap dirinya di rumah itu bukan lagi sebagai hamba bayaran, tetapi sebagai salah satu anggota keluarga mereka. Demikian pula anggapan majikannya, suami-isteri terhadap dirinya.

Ketenangan hidup dan kepuasan hati yang didapat oleh Yusuf selama ia tinggal di rumah Futhifar, telah mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan tubuhnya. Ia yang telah dikaruniai oleh Allah kesempurnaan jasmani dengan kehidupan yang senang dan tenang di rumah Futhifar, semakin terlihat tambah segar di wajahnya, menambah elok parasnya dan tambah tegak tubuhnya. Sehingga ia merupakan seorang pemuda remaja yang gagah perkasa yang menggiurkan hati setiap wanita yang melihatnya, tidak terkecuali isteri Futhifar, majikannya sendiri. Bahkan bukan tidak mungkin bahwa ia akan menjadi rebutan lelaki, andai kata ia hidup di kota Sadum di tengah-tangah kaum Nabi Luth ketika itu.

Kebersamaan sehari-hari di rumah antara Yusuf pemuda remaja yang gagah perkasa dan nyonya Futhifar, seorang wanita muda cantik dan ayu, tidak akan terhindar dari risiko terjadinya perbuatan maksiat, bila tidak ada kekuatan iman dan takwa yang menyekat hawa nafsu. Demikianlah akan apa yang terjadi terhadap Yusuf dan isteri pembesar Mesir tersebut.

Pada hari-hari pertama Yusuf berada di tengah-tengah keluarga, nyonya Futhifar tidak menganggapnya dan memperlakukannya tidak lebih dari sekedar pembantu rumah yang cakap, tanggap, giat dan jujur, berakhlak serta berbudi pekerti yang baik. Ia hanya mengagumi sifat-sifat luhurnya itu serta kecakapan dan ketanggapan kerjanya dalam menyelesaikan urusan dan tugas yang dipasrahkan kepadanya. Akan tetapi memang rasa cinta itu selalu didahului oleh rasa simpati.

Simpati dan kekaguman nyonya Futhifar terhadap cara kerja Yusuf, lama-kelamaan berubah menjadi simpati dan kekaguman terhadap bentuk benda dan paras wajahnya. Gerak-gerik dan tingkah laku Yusuf diperhatikan dari jauh dan diliriknya dengan penuh hati-hati. Bunga api cinta yang masih kecil di dalam hati nyonya Futhifar terhadap Yusuf semakin hari makin membesar dan membara tiap kali ia melihat Yusuf berada didekatnya atau mendengar suara dan suara langkah kakinya.

Walaupun ia berusaha memandamkan api yang membara di dadanya itu dan hendak menyekat nafsu birahi yang sedang bergelora dalam hati, untuk menjaga martabatnya sebagai majikan dan mepertahankan sebagai isteri pembesar Mesir, namun ia tidak berupaya menguasai perasaan hati serta hawa nasfunya dengan kekuatan akalnya.

Bila ia duduk sendiri, maka terbayanglah di depan matanya paras Yusuf yang elok dan tubuhnya yang bagus, hingga tetap melekat bayangan itu di depan mata dan hatinya. Sekalipun ia berusaha untuk menghilangkannya dengan mengalihkan perhatian kepada urusan dan kesibukan rumahtangga. Dan akhirnya menyerahlah nyonya Futhifar kepada kehendak dan panggilan hati dan nafsunya yang mendapat dukungan syaitan dan iblis, hingga semua pertimbangan dikesampingkan, kedudukan dan martabat serta kehormatan diri sesuai dengan tuntutan dengan akal yang sehat.

Nyonya Futhifar menggunakan taktik, mamancing-mancing Yusuf agar ia lebih dahulu mendekatinya dan bukannya dia dulu yang mendekati Yusuf demi menjaga kehormatan dirinya sebagai isteri pembesar Mesir. Ia selalu berdandan dan berhias rapi, bila Yusuf berada di rumah, merangsangnya dengan wangi-wangian dan dengan memperagakan gerak-gerik dan tingkah laku sambil menampakkan, seakan-akan dengan tidak sengaja bagian tubuhnya yang biasanya menggiurkan hati orang lelaki.

Yusuf yang tidak sadar bahwa Zulaikha, istri Futhifar, mencintai dan mengandungi nafsu syahwat kepadanya, menganggap perlakuan manis dan pendekatan Zulaikha kepadanya adalah hal biasa. Ia berlaku sopan santun dan bersikap hormat seperti biasa serta tidak sedikit pun terlihat sesuatu gerak atau tindakan yang menandakan bahwa ia terpikat oleh gaya dan aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya dan menggiurkan hatinya.

Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ia tidak akan terjerumus melakukan suatu maksiat yang sekaligus merupakan perbuatan atau suatu tindakan khianat terhadap orang yang telah mempercayainya memperlakukannya sebagai anak dan memberinya tempat di tengah-tengah keluarganya.

BERSAMBUNG

Komentar